Salam sejahtera wahai saudaraku, selamat datang di Weblog Qta. Alhamdulillah akhirnya situs ini dapat diluncurkan walaupun dengan segala kekurangan, tetapi minimal sudah lahir. Saya sangat berharap situs ini dapat berkembang dan dijadikan forum komunikasi untuk keluarga besar Almarhum Hidajat Bin Muhammad Pakih, sebagai Ayah kami tercinta, yang tanpa terasa beiau telah meninggalkan kita 9 tahun yang lalu tepatnya wafat pada tanggal 26 Agustus 1999. Untuk itu mari kita sama-sama rawat dan hiasi situs ini dengan berbagai pengalaman, curahan hati, dan bahkan mungkin kritikan yang membangun yang berguna khususnya untuk anak para generasi penerus Keluarga Besar Almarhum Hidajat.
Ada warisan yang sangat lengkap dan berharga yang beliau tinggalkan, untuk para anak dan keturunannya yang ditinggalkan. Yang pertama adalah bekal ilmu pengetahuan dan yang kedua adalah harta berupa materi. Selain itu juga perilaku yang beliau contohkan langsung pada saat masih hidup, berupa pemikiran, kesederhanaan dalam hidup. Secara karir beliau pensiun tetapi dalam mendidik dan mengarahkan khususnya para putra-putrinya serta para cucunya beliau tidak pernah mengenal pensiun. Beliau selalu berusaha agar para anaknya mendapatkan pendidikan yang layak. Saya ingat betul beliau pernah berkata: “Salah satu memperbaiki kualitas keturunan itu adalah melalui pendidikan, dengan pendidikan diharapkan lahir para putra-putri yang Cageur, Bageur, Bener, Jujur, jeung Pinter“. Insya Allah perkataan beliau inilah yang akan kita kaji dan kita pertanyakan pada diri kita masing-masing.
Kini tinggal Karmini, Ibunda tercinta serta Nenek dari para cucunya yang sudah berusia cukup lanjut 82 tahun. Sama dengan Almarhum, peran beliau juga sangat berharga dalam proses menjadikan anak-anaknya. Ketelatenan, kesabaran dan ketabahan dalam menjalani hidup sangatlah luar biasa dalam mengurus putra-putrinya yang kalau kita renungkan sekarang, betapa sulitnya mengurus dan menjadikan kesembilan anak-anaknya. Cinta, kasih sayang serta jiwa dan naluri seorang ibu yang melekat dalam diri serta pengabdian seorang istri, inilah yang menjadikan power bagi beliau untuk menjadikan dan mengantarkan putra-putrinya menuju kemandirian. Dengan segala kesederhanaannya beliau menikmati sisa hidupnya tetapi penuh dengan senyum. Nalurinya selalu ingin berbagi dan sampai saat ini masih melekat dalam dirinya, padahal saya yakin sekali beliau sudah tidak ingat lagi materi. Ini yang harus kita renungi bahwa kasih ibu itu sepanjang masa.
Tiba saatnya kini kita sebagai putra-putrinya untuk rela dan ikhlas melayani, Ibunda tercinta dengan didasari rasa cinta kasih sayang, sebagimana beliaupun telah memberikan itu semua kepada kita dan bahkan sangat tidak ternilai besarnya. Saya yakin ini adalah bentuk committment dari para putra-putrinya agar Ibunda tercinta, dapat tersenyum dalam menjalani sisa hidupnya. Allah SWT, Maha Mengetahui sebagaimana kita menyayangi kedua orang tua kita, maka kita pun kelak akan mendapat perlakuan dan hal yang sama dari anak-anak kita sebab hidup adalah perbuatan. Kelak para orang tua akan tersenyum ketika dimintai pertanggung-jawabannya oleh Sang Khalik, Allah SWT………….Amien. Allahumaghfirli Wali wali dayah, Warhamhumakama Robayani Shogirah…..Amin Yaa Allah Yaa Robal Allamin……..Atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami semua.

wah ini bukti eksistensi keluarga hidajat yang up-to-date dengan teknologi..hihihihi..alhamdulillah, keluarga hidajat hingga kini tetep kompak, rukun, ditunjukkan dengan semangat “hayuk ngariung” =)
i’m proud to be a hidajat!!
By: winda_nih on January 25, 2009
at 1:18 pm