NENEK QTA SUDAH 83 TAHUN


Wa Maman, Aki Anung, Wa Hafidz

Wa Euis, Ida, Mang Bayu, Bi Asri

Nenek ditengah Pericuan

Nenek Nuju Tuang

Karasman
82 TAHUN NENEK
Melati Putih by: Abah (Iwan Abdurrachman, Ir)
Ini kisah tentang sekuntum bunga,
terputih dari yang putih.
Yang Daunnya hijau dimusim kering,
Kemilau disinar surya.
Dan Bila musim bunga tiba,
melati bersemi.
Putih dan sejuk,
bening berseri.
Bergetar disudut hatiku.
Alhamdulillah, pada tanggal 15 Maret 2008, Ibunda dan Nenek kita tercinta telah menjalani hidup selama 82 tahun. Hari ulang tahun Nenek, secara sederhana namun tetap hikmat dalam suasana penuh kebahagiaan telah dirayakan di rumah Kopo Elok. Hari ulang tahun nenek juga bersamaan dengan ulang tahunnya Krisna (Duduy), salah satu cucunya dari pernikahan Ida dengan Riyanto.
Seperti biasanya wejangan singkat dan ucapan selamat disampaikan oleh sesepuh kita Aki Asgar. Kakang dalam wejangannya memberi ucapan selamat dan bercerita tentang perjalanan singkat perjalanan kehidupan nenek baik pada saat mendampingi Almarhum Aki maupun setelah Nenek ditinggal Almarhum Aki. Setelah selesai wejangan Kakang melanjutkan doa selamat dan doa lainnya yang dipersembahkan juga untuk Almarhum Aki, serta para sesepuh (karuhun) kita yang telah dipanggil Allah SWT.
Dalam suasana Riung Mungpulung, kita menengok kemasa lalu yang mungkin tidak terlalu jauh yaitu sekitar 6 tahun kebelakang. Ketika itu Nenek kita telah telah menjalani sakit yang cukup parah dan sempat keluar masuk RS. Advent Bandung. Dokter beberapa dokter mengatakan salah satu penyebabnya adalah Sirosis, akibat dari penyakit diabetis yang sudah komplikasi. Lalu ada seorang dokter onkologis yang mendiagnosa bahwa nenek menderita kanker rahim dan hasil pengujian laboratorium telah menunjukan benjolan yang cukup besar. Diagnosa ini lebih diyakinkan lagi oleh seorang dokter akhli kandungan.
Waktu itu saya dan Ida, diberi tanggung-jawab oleh Kakang, Teh Euis, Teh Asri dan Kakak-kakak lainnya, untuk mengurus berobat jalan, pasca keluar RS. Advent. Kami semua sudah sepakat agar Nenek dipegang oleh dokter utamanya yaitu dr. Rachmat, beliau adalah seorang akhli penyakit dalam dan kanker, yang berpraktek di Apotek Kimia Farma, Jl. Buah Batu, Bandung. Seperti biasanya setelah menjalani pemeriksaan, saya dan Ida memberikan hasil data laboratorium serta data dari seorang dokter akhli kandungan. Nenek waktu itu menunggu diluar didampingi perawatnya Suster Aam. Saya menanyakan bagaimana kondisi ibu saya serta penyakit sebenarnya yang diderita oleh Nenek. Dokter waktu menjelaskan panjang lebar dan menyatakan bahwa Nenek positif servic (kanker rahim). Lalu sayapun menanyakan dengan segala kerendahan hati, langkah apa yang harus dijalani oleh Nenek dan dukungan serta persiapan apa yang harus disiapkan oleh keluarga. Sang dokter menjawab dengan sangat bijakdan beliau kembali menerangkan. Kanker hanya bisa disembuhkan dengan jalan operasi, sisanya dengan pengobatan. Sejenak saya dan Ida terdiam, lalu saya tanyakan kembali kepada beliau. Jadi kesimpulannya langkah apa yang akan dokter ambil untuk Ibu saya. Beliau bertutur dengan lembut, saya tidak akan mengambil keputusan untuk mengambil langkah operasi. Yang pertama saat ini kondisi ibu sudah cukup sepuh dilihat dari sisi usia dan secara fisikpun sudah mulai berkurang. Mungkin kalau Ibu masih berusia sekitar 60 tahun, Ibu masih memungkinkan untuk di operasi. Ibu sudah cukup panjang menjalani hidup, terlalu panjang juga hidup itu capek, Pak. Biarkan ibu menjalani sisa hidupnya dengan secara alami, dukungan moral dari para putranya yang lebih kuat dan sangat berarti. Pulang kerumah saya diskusi panjang dengan Ida dan bahkan saya sering diskusi agar selalu check pada saat memandikan Nenek. Karena waktu itu saya sempat meraba benjolan Nenek dengan dr. Dewi memang cukup besar. Saya dan Ida, sering tidur dengan Nenek dan sering beliau, mungkin menahan rasa sakit sambil memegang ranjang sambil bergetar. Sayapun terbangun tetapi setiap kali saya tanya, beliau selalu tersenyum dan mengatakan, bahwa tidak ada yang sakit.
Seluruh keluarga besar saat itu terfokus dan tercurah perhatiannya sama Nenek, dari mulai sumbangan darah ketika Nenek harus segera tambah darah karena HB menurun dan saya ingat diberi beberapa referensi dari Kakang, mengenai penanganan pasien kanker yang sebagian besar di download dari internet. Saya coba baca dan saya diskusikan dengan dr. Dewi dan Ida, serta diaplikasikan sesuai dengan kondisi yang memungkinkan. Sebagian besar dari referensi itu adalah berbicara mengenai segi kejiwaan, intinya adalah bagaimana cara kita memberi semangat hidup dan menjalani sisa hidup secara bahagia. Pikiran saya waktu itu sangat sederhana sekali, bahwa kewajiban support secara kejiwaan adalah kewajiban dari para anak-anaknya sedangkan support secara medical adalah kewajiban dari dokter. Saat itu dokter yang membantu juga cukup banyak baik yang langsung maupun berupa saran. Saya tidak akan lupa atas kebaikan beliau-beliau yaitu dr Dewi, dr. Tata dan dr. Kartini.
Seperti dapat kita saksikan bersama sekarang. Ibunda dan Nenek kita tercinta ini Alhamdulillah masih sehat dan bugar dalam menjalani usia ke 82. Tentu saja sudah ada beberapa kekurangan dari beliau akibat usia dan juga mungkin dari penyakit yang dideritanya. Tapi saya bangga dan bersyukur sekali kekhadirat Illahi Robbi, bahwa orang tua kita masih mampu berjalan bercerita panjang lebar ketika diajak bercerita. Saya sering bertanya sama beliau ketika tidur dikamarnya. Kumaha Mih, ayeuna sok aya anu karaos nyeri dina patuangan?. Ahh, henteu aya bayu. Ayeuna mah teu karaos nanaon !. Saya juga sempat walaupun tidak tega, kalo check Blood Pressure, saya coba raba bersama mengenai benjolannya tetapi saya juga masih ragu hanya perasaan sudah mengecil dan tidah mengeras lagi. Tapi wallahu alam, mungkin ini harus diyakinkan secara medis oleh dokter.
Terlepas dari itu semua, ada suatu kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT, kepada Ibunda dan Nenek kita tercinta. Kekuatan itu begitu besar sehingga mampu menahan penderitaan sakitnya akibat penyakit yang dideritanya. Kekuatan itu salah satunya adalah kekuatan bathin yaitu Kesabaran dan Ketabahan dalam menjalani hidup. Yang kedua mungkin support dari anak dan cucunya, saya masih ingat ketika kita melaksanakan doa bersama peringatan hari ke-7 saat aki wafat. Waktu itu Teh Yani membacakan ayat suci yang diterjemahkan oleh Qaris, yang isinya mengenai mencintai orang tua. Mungkin ini yang memberikan kekuatan karena anak dan cucunya sadar dan sangat mencintai orang tua kita.
Kini Ibunda dan Nenek kita tercinta telah renta, mata dan pendengarannya sudah mulai berkurang dan saya baru menyadarinya ketika lebaran yang baru lalu Teteh Faika dari Australia sungkem by phone. Nenek mengeluh kenapa saya tidak mendengar teleponnya, begitupun Teh Faika dari sana bicara, Mang Bayu, Teteh ingin sekali bicara ama Nenek. Yaa itu lah sayang, keadaan Nenek sekarang. Insya Allah mungkin mang bayu akan bawa ke dokter THT, mudah2an masih bisa diusahakan. Tapi yang paling penting dari kita semua sebagai anak dan cucunya adalah sikap melayani yang disertai oleh kesadaran nurani yang harus dipertahankan. Hanya satu aja mungkin Teh, Kita semua ingin Nenek tetap tersenyum bahagia dalam menjalani sisa hidupnya. Karena kita sudah committed dalam diri kita lah sekarang yang harus bisa bersabar dan tabah dalam melayani Nenek. Alhamdulillah Nenek kita sudah tidak ingat materi sehingga menjalani hidupnya juga senyum aja, Teh Faika. Benar kata Papamu, Tanpa orang tua kita tidak bakalan ada kita. Untuk itu mungkin mutlak dan sadar kali yaa, Tidak ada alasan lagi “Untuk tidak menyayangi Orang Tua”. Insya Allah, semoga Allah SWT, menjadikan kita anak yang sholeh…………Amien

Alhamdulillah Hari ini 15 Maret 2009, ibunda tercinta telah berusia 83 tahun. Wilujeung ulang tahun nek, mugia sehat seterasna, supados tiasa ngumpul ngariung mungpulung deui sareng abdi sakeluarga.
Rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga, rasanya tak bisa diungkapkan lewat kata2. Tapi InsyaAllah segala kesederhanaan, kebaikan, kesabaran, ketabahan, ketawakalan yang dimiliki nenek, telah diwariskan kepada kami. Ya Allah berikanlah waktu dan kesempatan untuk berkumpul kembali bersama ibunda tercinta, dan tidur dalam pelukan hangatnya.Amien.
Peluk cium dari jauh…
Ike, Budi, Qamal dan Qaris.
By: Ike & Keluarga on March 15, 2009
at 11:43 am